Membina Pola Pikir dan Sikap Islami

matematika islam untuk sd
matematika sd

The Secrets of “Math-Q”

Oleh : IR. Bekti Hermawan Handojo, MKom *)

Seorang teman pernah bercerita bagaimana guru-guru di Israel mengajarkan matematika kepada para siswanya. “Jika di suatu perkampungan Palestina ada 200 orang penduduk yang tinggal di sana, lalu pada suatu subuh tentara Israel membunuh 50 orang dari mereka. Berapa sisa orang Palestina yang masih hidup? Berapa hari lagi tentara Israel harus membunuh agar orang di perkampungan Palestina tidak tersisa?”

Begitulah guru-guru Israel menanamkan pola pikir dan pola sikap kepada para siswanya melalui pembelajaran matematika. Lalu bagaimana kita mengajarkan matematika kepada anak-anak kita agar mereka memiliki pola pikir dan sikap sebagai Muslim? Mengapa proses pembelajaran kita jarang membentuk pola pikir dan pola sikap yang Islami? Kita sering bertanya: apakah belajar matematika dapat memperkuat cara BERPIKIR seseorang? Apakah mereka yang belajar bahasa akan lebih SANTUN dalam berbicara? Apakah belajar psikologi dapat memperkuat EMPATI seseorang? Apakah kita yang belajar metodologi ilmiah akan mampu menyelesaikan masalah-masalah hidup kita secara ILMIAH juga (nyatanya masih banyak praktek perdukunan di negri ini)?

Kita menemukan jarak yang lebar antara ilmu matematika yang dipelajari dengan pembentukan pola pikir dan pola sikap anak-anak kita. Itu artinya, pembelajaran matematika anak-anak kita selama ini sekedar sebagai aktivitas formal yang bersifat mekanik. Ia tidak memiliki “daya ubah” terhadap diri mereka. Mereka hanya memperoleh nilai indeks prestasi, tetapi belum tentu membentuk karakter manusia berprestasi. Padahal nilai indeks prestasi hanya digunakan sementara, sedangkan karakter manusia berprestasi diperlukan sepanjang masa

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar setiap unit pengetahuan matematika yang dipelajari anak-anak kita mampu membentuk pola pikir dan pola sikap Islami?

Ada tiga hal yang perlu dilakukan agar proses pembelajaran matematika anak-anak kita mampu membentuk pola pikir dan pola sikap yang Islami:

Menerima setiap unit pengetahuan baru secara utuh. Pengetahuan tersebut semestinya adalah pengetahuan yang benar-benar teruji kebenarannya.

Meninggalkan pikiran dan kebiasaan lama yang membelenggu. Jadi, kita tidak sekedar menerima yang baru, tetapi juga menghapus pikiran-pikiran lama yang kurang benar. Misalkan, beberapa guru masih dijumpai merendahkan potensi siswanya, padahal mereka membenarkan konsep Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligent). Mengapa? Karena cara berpikir mereka masih diwarnai pandangan lama.

Mengaplikasikan setiap unit pengetahuan yang kita pelajari dalam realitas kehidupan yang lebih variatif. Banyak praktek Math-Q akan menjadikan anak-anak kita terbiasa dan terlatih menghadapi realitas kehidupan.

Selain hal di atas, ada tiga komponen utama yang perlu diperhatikan agar anak-anak kita bisa membentuk pola pikir dan pola sikap Islami:

Efek psikologis yang ditimbulkan dari proses pembelajaran Math-Q. Contohnya rasa percaya diri dan keberanian mengungkapkan gagasan. Jika proses pembelajaran matematika memberikan peluang bagi anak-anak kita untuk mengekspresikan gagasan secara wajar; setiap pendapat yang dikemukakan dihargai; maka mereka akan cenderung lebih mudah untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya di lingkungan yang berbeda.

Metode belajar Math-Q. Metode belajar yang dominan mengajak anak-anak kita berpikir, akan membentuk pola pikir dan sikapnya lebih terarah. Mereka akan terbiasa mengoptimalkan daya pikirnya.

Kebiasaan dan ketrampilan.

Proses belajar matematika pada anak-anak kita semestinya tidak berhenti sebatas scoring dan penilaian yang dilakukan secara formal oleh guru. Proses itu harus berlanjut sampai pada pembentukan pribadi Muslim yang unggul dan prestatif. Pribadi yang memiliki obsesi kesempurnaan.

Sungguh, hanya kebaikan saja yang kita harapkan atas semua ikhtiar kita. Semoga ada yang dapat segera kita amalkan. Dan semoga proses pembelajaran matematika pada anak-anak kita sanggup membentuk pola pikir dan pola sikap yang lebih baik.

Sebagaimana Perkataan Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu:

Tuntutlah ilmu pengetahuan karena dengan ilmu akan menimbulkan rasa takut pada Allah. Mempelajari ilmu pengetahuan termasuk ibadah. Menelaahnya dianggap membaca tasbih, meneliti itu setara jihad. Mengajarkan kepada orang lain dihitung sedekah. Dan mendiskusikannya dengan para pakar dianggap sebagai suatu bentuk kedekatan dengan-NYA.”

Wallahul musta’an. Semoga Allah menolong kita. Aamiin.

*) Penulis adalah praktisi pendidikan dasar di Rumah Pendampingan Belajar – Eksakta Integra Islamica, Bogor dan observer pendidikan menengah pertama di Islamic Science Mathematics Institute, Malang – Indonesia. Pendiri Rumah Akal Foundation. Dua kali Rekoris MURI tahun 2008 bidang Pendidikan Matematika Paling Mudah di Indonesia dari Kemenristek RI dan Penemu Pertama Metode Matematika Akhlaq dari Kemenbudpar RI, serta pendiri Litera Institute – Malang dan Kontributor di Center for Islamic Studies and Science (CISS) – Jakarta.