Ajaklah Al Qur'an Bicara Sebelum Kau Sentuh dengan Nalarmu

Dibutuhkan hanya 2 semester untuk menjadikan anak berprestasi pada pelajaran matematika. Namun, butuh 25-30 tahun (bahkan lebih) untuk memperbaiki generasi yang rusak!

Pendidikan akhlak bernalar tiba-tiba menjadi wacana hangat di dunia pendidikan Indonesia. Gagasan pendidikan akhlak bernalar menginterupsi kita, atau bahkan menonjok keterlenaan kita.

Selama ini kita begitu asyik berenang-renang pada model pendidikan yang menafikan akhlak dan nalar, sibuk menyusun desain pembelajaran dengan meletakkan pilihan A, B, C atau D sebagai evaluasi terakhir.

Kita bangga menyaksikan anak-anak didik kita begitu terampil memainkan pensil 2B-nya di antara isian soal ujian akhir.

Kini saatnya dunia pendidikan mengubah paradigma. Bukan lagi mengarahkan siswa untuk sekedar memiliki ketrampilan mengerjakan soal-soal eksakta (IQ), melainkan mendorong siswa untuk dapat mengaktualisasikan dirinya dan memiliki kebiasaan menemukan makna kehidupan.

Pendidikan adalah proses rekayasa pemikiran untuk menghasilkan kepribadian sebagaimana yang diinginkan. Selama ini dunia pendidikan agama secara umum dan pendidikan pesantren terdesak oleh kecenderungan yang mengutamakan penguasaan eksakta.

Dunia pendidikan kita hanya terfokus pada Learning Skill, namun meninggalkan Thinking Skill dan Living Skill. Akibatnya apa yang menjadi kelebihan dunia pendidikan agama ditinggalkan.

Eksakta Integra Islamica (EII) menawarkan cara pandang baru dalam pendidikan akhlak bernalar melalui penguasaan ilmu Matematika Dasar

Merujuk pada hadis Nabi bahwa dirinya diutus untuk menyempurnakan akhlak, EII sebagai lembaga pendidikan khusus mata pelajaran Matematika Tingkat Dasar berbasis Qur’an, menawarkan sejumlah prinsip pendidikan akhlak berkarakter menggunakan media Matematika Qur’an.

EII berpandangan bahwa: antara pengembangan akademis dan pengembangan akhlak siswa sesungguhnya dua hal yang sama-sama mesti diselaraskan. Yang satu tidak bisa mematikan yang lain.

Oleh karena itu EII memiliki target pembelajaran untuk setiap siswa adalah: berprestasi akademis dan berbudi pekerti (akhlaq)

EII didirikan bersama Litera Institute | Co-branding produk yang telah memiliki reputasi tingkat nasional ini menghasilkan metode pendidikan Islam melalui pendekatan Matematika Qur’an.

Jadi, orangtua tidak perlu khawatir, penguasaan ilmu eksakta (IQ) siswa terasah, akhlaq (EQ) siswa pun menjadi bermakna!

Berikut beberapa dokumentasi dan materi yang diajarkan di Eksakta Integra Islamica dan beberapa sekolah di Kota Malang, Jawa Timur.

project matematika terapan enigma
project matematika terapan menggambar perkalian
project matematika terapan spektrum

Apa dan Bagaimana Math-Q?

Tanya Jawab Majalah AL-FALAH YDSF Surabaya dengan pak Bekti Hermawan (penggagas Math-Q)best https://www.hublotwatches.to/ extraordinarily rigorous cultivation and thus crushing benchmark can be the sit down and watch aspect and thus long-term {reliability of the security.the best iwc fake watch in the world brightness and also building belonging to the relationships from unique, accentuating typically the exercise belonging to the three-dimensional building.this is often with handy and complex attributes perfectrolexwatch.to for sale in usa always strengthen superb watchmaking practice.the research into the connection anywhere between husband in addition to the quantity of a variety of societies was first definitely based on cheap tomfordreplica.ru under $61.the best https://fendi.to/ in the world is best and stylish.ipromise.to are commonly replicated on the market.

Saya lebih suka menyebut ilmu yang terkandung dalam Alqur’an sebagai “ilmu kehidupan”. Sebab ilmu dalam Alqur’an itu berlaku di seluruh jagad raya ini, bukan hanya di langit J Alqur’an sendiri adalah sebaik-baik tafsir meski Alqur’an itu bukan buku sains atau matematika. Terlalu sempit jika kita mengartikan Alqur’an sebagai sains. Alqur’an terlalu mulia disandingkan dengan buku sains manapun.

 

Al Hikmah, itulah kunci untuk mengaplikasikan ilmu Alqur’an dalam kehidupan modern saat ini. Allah SWT berfirman:

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS 16:12)

 

“Allah menganugrahkan al-hikmah (kefahaman yang mendalam) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang ber-akal-lah yang dapat mengambil pelajaran(QS 2:269)

 

Kedua ayat itu terasa sangat nyata bagaimana seharusnya setiap manusia bersikap dalam mengaplikasikan ilmu yang terkandung dalam Alqur’an. Tanpa Al-Hikmah, kita akan gagal mengaplikasikannya. Apalagi kehidupan modern saat ini hingar-bingar dengan segala “fenomena digital” yang tak terkendali. Tanpa Al-Hikmah, siapa pun akan gagal mengaplikasikan ilmu Alqur’an dalam kehidupannya. Yang menjadi inti permasalahannya adalah: bagaimanakah agar kita menjadi orang yang dikehendaki Allah agar dapat menemukan HIKMAH?

Cara hidup Islami adalah sebuah kesempurnaan yang didukung oleh logika dan analisis yang dinamis. Al Quran dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor penting dalam urusan dan motivasi setiap manusia di dunia. Alqur’an dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang saling mendukung, bukan saling “mematikan”. Hal ini jelas terlihat dalam 3 ayat berikut:

 

Untuk setiap berita (kabar) ada faktanya dan kelak kamu akan mengetahui” (QS 6:67)

 

Dan  kamu akan mengetahui fakta itu setelah satu masa” (QS 38:88)

 

Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an sebagai bukti segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS 16:89)

 

Apa “benang merah” dari ketiga ayat di atas? Alqur’an penuh dengan berita atau informasi yang harus dipahami dan diambil HIKMAH-nya. Mengapa demikian? Supaya kita bisa mengetahui faktanya! Jadi informasi dalam Alqur’an itu ada faktanya. “Fakta” itulah yang disebut sebagai ilmu pengetahuan. Dan fakta itu bisa kita ketahui setelah 1 masa. Allah SWT tidak mengatakan berapa lama 1 masa itu. Bisa 1 hari, 1 tahun, 1 abad, tergantung dari pemahaman kita atas sebuah HIKMAH.

 

Sebab Alqur’an adalah “bukti segala sesuatu”, “petunjuk” dan “rahmat” serta “kabar gembira” bagi orang yang berserah diri, tawadhu, iklas dalam mempelajari sesuatu. Dan suatu saat faktanya pasti ditemukan.

 

Jadi sekali lagi kunci untuk mempelajari dan mengetahui kaitan antara Alqur’an dan ilmu pengetahuan adalah HIKMAH.

Menurut pendapat saya, “pesan matematis” yang utama dalam Alqur’an ditemukan dalam QS 19:94, yaitu:

 

Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti(QS 19:94)

 

Nah, di dalam ayat ini jelas sekali Allah mengajarkan pada kita bahwa urutan dalam belajar berhitung itu adalah:

 

1.Pahami konsep jumlah

2.Pelajari operasi hitung (tambah kurang kali bagi).

3.Ajarkan nalar untuk mencapai hasil hitungan yang teliti

 

Begitulah “pesan matematis” yang diajarkan Alqur’an pada kita. Jadi dalam mengajarkan ilmu hitung (awal ilmu matematika secara luas) maka ajarkan pertama kali pada anak-anak kita konsep jumlah. Jangan mengajarkan yang lain sebelum konsep jumlah ini dikuasai. Setelah konsep jumlah dipahami dan dikuasai, maka tahap berikutnya ajarkan operasi hitung. Operasi hitung dalam tahap awal pembelajaran matematika adalah tambah, kurang, kali dan bagi. Bisa juga dibalik asalkan konsep jumlah sudah dikuasai dengan baik.

 

Tahap selanjutnya adalah mempelajari nalar. Mempelajari nalar sudah jelas bertujuan untuk lebih memahami inti persoalan matematika sehingga kita bisa memperoleh hasil jawaban yang teliti dan benar.

 

Tanpa nalar, mempelajari konsep apa pun menjadi tidak bermakna!

 

Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam  dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.” (QS 29:49)

 

Begitulah Alqur’an mengajarkan tahap awal matematika pada kita.

Saya tidak pernah menghitung ada berapa ayat dalam Alqur’an yang membicarakan tentang matematika. Karena saya tidak fokus ke arah sana, tetapi mencari kaitan antara konsep matematika dan HIKMAH Qur’ani yang terkandung dalam setiap konsep matematika. Saya yakin pasti ada banyak ayat.

 

Perhatikan contoh soal olimpiade matematika SD berikut:

 

Pak Hasan memiliki 3 petak sawah yang berukuran 117 x 281 m2, 215 x 199 m2, dan 214 x 150 m2.  Dari ketiga petak sawah milik pak Hasan tersebut, jika dilihat dari atas bukit setinggi 400 meter, manakah yang berbentuk bujur sangkar?

 

Kemudian perhatikan ayat berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa”. (Al-Hujurat:12)

 

Apa kaitan soal di atas dengan QS Al-Hujurat:12?

 

Silahkan Anda renungkan untuk mendapatkan HIKMAH dan jawab dengan jawaban yang tepat! Yang jelas, soal olimpiade matematika SD di atas sangat baik untuk menjelaskan nilai-nilai Islami tentang BERBURUK SANGKA

Dalam pendidikan Math-Q saya tidak menekankan harus menghafal ayatnya. Tetapi setiap orang yang mempelajari Math-Q setidaknya memahami makna atau bahkan HIKMAH yang terkandung dalam sebuah ayat. Sebab membimbing dalam mencari hikmah dalam sebuah ayat jauh lebih sulit dibandingkan sekedar hafal.

 

Oleh sebab itu, peran sebuah ayat Alqur’an sangat besar dalam memaknai sebuah konsep matematika. Satu ayat bisa juga mengandung makna atau HIKMAH untuk beberapa konsep matematika.

HIKMAH adalah kuncinya. Biasakanlah mencari HIKMAH yang terkandung dalam sebuah ayat atau beberapa ayat ketika kita selesai membaca Alqur’an, sehingga kita terbiasa kontemplasi (merenung) atas sebuah ayat dan peranannya dalam kehidupan kita.

 

Matematika adalah salah satu disiplin ilmu yang sangat membantu kita dalam kehidupan ini. Tanpa matematika banyak tabir alam semesta yang tidak bisa dijawab! Jadi, ada kaitan yang sangat jelas:

 

Alqur’an sebagai pedoman hidup kita, dan matematika sebagai alat yang memudahkan hidup kita di semesta ini. Bukankah ini adalah sinergi yang sangat baik?

Kesulitan utama bagi anak-anak usia Sekolah Dasar adalah anak tidak dibiasakan memahami HIKMAH sebuah ayat. Pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar kita cenderung menginginkan anak-anak kita HAFAL ayat-ayat Alqur’an tanpa memahami maknanya. Sehingga ketika belajar Math-Q, meski mereka hafal ayatnya, tetapi sangat sulit memahami hikmahnya.

 

Bahkan di jenjang pendidikan SMP pun masih ada beberapa kesulitan yang sama seperti Sekolah Dasar. Hanya saja anak-anak SMP lebih bisa diajak dialoq mengenai hikmah sebuah ayat dibandingkan anak SD.

 

Sedangkan masa SMA adalah masa yang sangat tepat untuk mempelajari Math-Q (untuk remaja kami namakan Kajian Islam Ilmiah Populer). Sebab diusia ini anak-anak SMA sudah bisa mengenal hak dan kewajibannya sehingga berdialoq tentang Math-Q menjadi “hidup” dan berkembang.

 

Jadi kebiasaan tidak memaknai sebuah ayat yang telah dibaca adalah faktor utama lemahnya anak didik kita dalam mempelajari Ngaji Matematika. Padahal sudah jelas Allah SWT mengatakan:

 

Janganlah kamu gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat menguasainya (QS 75:16)

 

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (QS 73:4)

 

Kedua ayat tersebut sudah sangat jelas menginginkan kita membaca ayat-ayat Alqur’an itu dengan tidak tergesa-gesa dan perlahan agar kita bisa memahami makna atau HIKMAH-nya.

Tidak ada metode khusus. Saya menggunakan metode dialoq langsung dengan siswa untuk memperoleh hasil pendidikan Math-Q yang baik. Dengan dialoq biasanya aktivitas belajar mengajar Math-Q menjadi jauh lebih baik dan “hidup” serta berkembang. Jauh dari kesan membosankan!

Sejak usia 8 tahun sudah bisa. Atau seorang anak yang sudah menginjak jenjang kelas 2 Sekolah Dasar.

Pertanyaan yang sangat bagus! Benefit itu setidaknya saya rasakan sendiri saat ini, yaitu saya lebih tenang dalam menyikapi hidup ini. Tidak gelisah. Melatih kesabaran. Mengendalikan emosi. Tawadhu untuk belajar pada setiap orang. Dan selalu belajar ikhlas untuk menjadi insan perindu IHSAN, pencari HIKMAH di telaga matematika.

 

Bagi anak-anak didik saya, khususnya yang sudah duduk di SMP dan SMA, mereka menjadi lebih terbuka terhadap setiap pemasalahan yang mereka hadapi. Lebih berani bersikap jujur, apa adanya. Menjadi sangat berminat membaca dan mempelajari Alqur’an serta mau menghargai pendapat dan keputusan teman dalam sebuah diskusi (dialoq).

 

Selain itu, tentu saja mereka menjadi lebih menyukai matematika.

 

Diperlukan kemampuan merekonstruksi pemikiran dan metodologi dengan menggali khazanah sumber-sumber yang dimiliki dan memadukan wawasan orisinal dan wawasan kekinian.

 

Inilah program yang saya sebut: PESANTREN TANPA NYANTRI